MENGHIDUPKAN SUNNAH MENYATUKAN UMAT


 بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Pendahuluan

Sesungguhnya Allah SWT, tatkala menciptakan manusia, diciptakan-Nya pula segala sesuatu dan hal yang dibutuhkan oleh mereka. Kebutuhan tersebut ada yang berkaitan dengan kebutuhan untuk hidup yang disebut kebutuhan jasmani, dan ada pula kebutuhan yang berhubungan dengan tujuan hidup yaitu yang disebut dengan kebutuhan rohani. Kedua-dua kebutuhan ini sangat penting dan mendasar. Dan demi kelangsungan hidup makhluk, Allah ciptakan bumi dengan segala perbendaharaan yang ada padanya sebagai rezki yang cukup untuk semua penghuninya.

"Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)". QS. Huud: 6

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan kedua, Allah berikan pula akal dan ilmu pengetahuan yang dengannya manusia mengenali tujuan hidupnya. Namun, dengan mengenali tujuan, belum tentu seseorang mengetahui jalan dan cara agar sampai ke tujuan tersebut. Oleh sebab itu, Allah tidak membiarkan hamba-Nya terombang-ambing dan kebingungan di perjalanan. Allah lalu memberi mereka petunjuk jalan yang benar-benar dapat dipercaya.

Dia menjadikan petunjuk tersebut melalui dua hal:

Pertama: melalui fitrah.

Allah telah menciptakan manusia di atas fitrah/ Islam, beriman dan menyerah kepada Allah. Semua manusia diciptakan dengan fitrah ini tanpa kecuali. Allah SWT berfirman:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". QS. Ar Ruum: 30

Dalam hal ini, Rasullah  SAW bersabda:

(( مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِه )). رواه البخاري ومسلم

"Tiada satupun bayi yang dilahirkan kecuali dilahirkan di atas fitrah (Islam), sehingga kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani ataupun Majusi". HR. Al Bukhary dan Muslim

Dari kedua ayat dan hadits di atas, jelas sekali bahwa pada dasarnya semua manusia terlahir dalam keadaan Islam, yaitu fitrah. Sebab, kalaulah fitrah bukan Islam, tentu Nabi SAW menambahkan: “Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya …… Islam".

Demikianlah sesungguhnya Allah menciptakan manusia, selama fitrah tersebut  masih suci, bersih dan tidak terkontaminasi, pasti seorang anak manusia cenderung menerima Islam.

Kedua: Hidayah Allah haturkan melalui wahyu yang disampaikan kepada para nabi dan rasul yang diutusnya. Mereka diutus Allah dan dipilihnya untuk menyampaikan firman-firman, aturan-aturan dan hukum-hukumnya. Diutusnya para nabi dan rosul tersebut adalah sebagai bentuk keadilan Allah dan sebagai hujjah-Nya kepada hamba-hamba-Nya di saat Dia melakukan perhitungan kelak terhadap amal-amal yang telah mereka perbuat di dunia.

Allah mengutus para nabi dan rasul tersebut sebagai penjelas dan penerang maksud Allah kepada hamba-hamba-Nya. Untuk itu Allah memberikan wahyu lain kepada mereka berupa hadits atau sunnah. Allah mengutus para nabi dan rasul tersebut dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, karena manusia dengan segenap kelengkapan pencipta-annya; akal yang cerdas, pemahaman yang dalam, analisa yang tajam dan otak yang brilian, tanpa bimbingan wahyu Al-Quran dan hadits, tetap saja tidak mampu mencerna dan mengetahui dengan pasti dan benar apa yang dihendaki Allah dari hamba-hamba-Nya. Mereka selamanya akan berselisih paham, karena memang tingkat penalaran seseorang akan berbeda dari penalaran yang lain. Inilah ciri khasnya sesuatu yang datang dari selain Allah. Allah berfirman:

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertenta-ngan yang banyak di dalamnya." QS. An- Nisaa': 82

Maka untuk meredam berbagai perselisihan dan perbedaan tersebut, Allah mengutus para nabi nabi dan rasul untuk menyatukan pemahaman dan persepsi. Setiap nabi diutus khusus kepada kaumnya. Namun, nabi kita, karena beliau adalah nabi penutup dan terakhir, maka beliau diutus untuk segenap manusia. Beliau yang datang menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang diinginkan Allah dari hamba-hamba-Nya. Beliau belum diwafatkan kecuali setelah agama ini sempurna disampaikan dan dijelaskannya. Allah SWT  berfirman:

"Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu." QS. Al-Maa-idah: 3

Pada generasi awal umat Islam, tidak ada perbedaan di kalangan umat bahwa dasar utama beragama adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Mereka sepakat mengembalikan segala permasalahan yang mereka perselisihkan kepada keduanya, karena memang demikianlah perintah Allah. Allah berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri (umara' dan ulama) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". QS. An-Nisaa': 59

Demikian pula generasi sesudah sahabat (tabi`in), mereka juga sama. Oleh sebab itu, pertanyaan yang selalu mereka lontarkan kepada sahabat; "Bagaimana Rasulullah SAW mengatakan dalam masalah ini? Bagaimana sikap Rasulullah SAW dalam situasi ini?", dst.

Dan orang-orang sesudah merekapun, yang tetap berdiri di atas jalan kebenaran juga mengikuti metode ini. Namun di saat ilmu kurang diminati, ulama kurang dihormati dan para penyeru kebenaran diwanti-wanti, terjadilah berbagai perbedaan dan perselisihan di kalangan umat, sehingga orang yang tidak berilmu tampil sebagai ulama, orang yang tidak berkompeten berbicara tentang agama tampil berbicara dan orang-orang yang seharusnya diam berani pula berkomentar bahkan berfatwa, persis seperti yang diperingatkan Nabi shallallahu `alaihi wasallam dalam haditsnya:

(( إِنَّ الله لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوْسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا)). رواه البخاري ومسلم.

"Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan cara mencabutnya dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi ia mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga bila tidak ada lagi seorang ulama yang tinggal, manusia menjadikan orang-orang jahil sebagai pemuka. Mereka lalu ditanya, kemudian menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat lagi menyesatkan". HR. Al-Bukhary dan Muslim

Kondisi ini dipandang oleh para musuh Islam dari ka-langan kafirin dan musyrikin sebagai peluang emas untuk semakin menjerumuskan umat ke jurang perbedaan yang semakin dalam dan terjal. Mereka berusaha keras dan me-ngeluarkan biaya besar guna mendidik dan mengkader para pemuda dan tokoh muslim untuk menjauhkan mereka dari nash-nash Al Quran dan hadits, atau, minimal, walaupun masih memakai keduanya, namun mesti dipahami jauh dari yang diinginkan Al Quran dan hadits itu sendiri.

Nah, demi menyelamatkan umat dari kancah perselisahan, penyesatan sistematis dan pertengkaran yang tak berkesu-dahan yang akan menghanguskan mereka, perlu adanya usaha-usaha intensif dari kita kaum muslimin dalam setiap level dan di segenap lini, untuk menjelaskan kepada umat bagaimana seharusnya mereka berhadapan dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah. Di samping itu, menjelas-kan kepada umat kesesatan dan penyimpangan yang dilaku-kan oleh orang-orang yang terpedaya dan tidak mau belajar Islam kepada ulama kaum muslimin, tetapi sebaliknya belajar kepada orang-orang kafir dan musyrik yang tidak percaya kepada Islam, dengan alasan objektifitas ilmiah. Sejak kapan orang-orang kafir itu objektif dan jujur menilai Islam? Walau-pun ada segelintir mereka yang jujur, tentu akan sama atau mirip hasil kajian dan penelitiannya dengan ulama kaum muslimin.

Apa yang penulis ingin tuangkan dalam tulisan ini adalah sebagian dari usaha kita untuk menyegarkan dan menyadar-kan umat pada pemahaman shahih, yang -insya Allah- diridhai Allah dan sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, tanpa mengabaikan pula objektifitas ilmiah.

1. DEFINISI AS-SUNNAH

As-Sunnah menurut bahasa artinya adalah Ath-Thariqoh (jalan baik maupun buruk). Misalnya dalam hadits dikatakan:

(( من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة، ومن سن سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها إلى يوم القيامة)). أخرجه مسلم من حديث جرير بن عبدالله البجلي.

“Barangsiapa yang merintis jalan kebaikan, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa yang merintis jalan keburukan, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengamalkan-nya sampai hari kiamat”. HR. Muslim

As-Sunnah menurut istilah Ahli Hadits: “Sesuatu yang di-riwayatkan dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam, berupa perkataan, perbuatan, persetujuan (taqrir) dan sifat”.

Sedangkan As-Sunnah menurut istilah ulama ushul fiqh yaitu, sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam berupa perkataan, perbuatan atau persetujuan (taqrir) yang dapat menjadi dasar hukum syar`i.

Adapun fuqaha’, mereka mendefinisikan As-Sunnah, sesuatu yang tsabit (shahih) dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam dengan tidak memfardhukan atau mewajibkan.

Perbedaan definisi ini adalah akibat dari sudut pandang yang berbeda. Ahli hadits memandang dari sisi bahwa Nabi adalah imam, pembawa petunjuk dan teladan yang mesti diikuti. Adapun ahli ashul fiqh memandang dari sisi bahwa Nabi adalah sebagai pembuat syari`at yang meletakkan fondasi-fondasi ijtihad bagi mujtahid setelahnya. Adapun para ahli fiqh melihat dari sisi bahwa segala yang datang dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam tidak keluar dari hukum-hukum Islam yang lima.

Dan yang kita maksudkan dalam tulisan ini adalah makna As-Sunnah di kalangan ahli hadits.

 

KEDUDUKAN AS-SUNNAH

Semua kita mesti meyakini bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam adalah manusia yang paling memahami makna-makna kalamullah. Beliau adalah orang yang paling mengerti maksud-maksud Allah dalam kitab-Nya. Nabi adalah orang yang paling tepat dan benar serta sempurna dalam mengamalkan perintah-perintah Allah. Dan semua kita mesti meyakini bahwa apapun yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu `alaihi wasallam, seperti itulah yang diperintahkan Allah. Oleh sebab itu, datanglah perintah untuk menataati Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam.  Allah berfirman:

(( قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله غفور رحيم )). آل عمران: 31

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". QS. Ali Imran: 31

Dan banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits lain yang kesemuanya mewajibkan taat kepada Nabi shallallahu `alaihi wasallam, dan bahwasanya taat kepada beliau berarti taat kepada Allah SWT. Ini menandakan bahwa As-Sunnah dari segi kekuatan hujjahnya sama dengan Al-Quran, walaupun dari segi derajatnya di bawah Al-Quran, sebab Al-Quran adalah kalamullah sedangkan As-Sunnah adalah perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi shallallahu `alaihi wasallam.

Tiada khilaf di kalangan sahabat dan ulama Islam bahwa hadits-hadits Nabi shallallahu `alaihi wasallam adalah sebagai sesuatu yang suci dan mesti dihormati. Mereka paham betul bahwa tanpa hadits Nabi shallallahu `alaihi wasallam, Al-Quran hampir tidak mungkin diamalkan. Oleh sebab itu, mereka dari zaman ke zaman selalu berusaha keras menghapal, meneliti dan mempelajari As-Sunnah agar terjaga dari pemalsuan dan penistaan. Kaum muslimin juga sepakat, bahwa As-Sunnah adalah sebagai sumber hukum Islam kedua sesudah Al-Quran. Bukan hanya sampai di situ, kalangan ahli hadits menyerukan bahwa semua As-Sunnah mestilah menjadi amalan nyata kaum muslimin.

As-Sunnah memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi dalam Islam, dan ini disadari betul oleh para pendahulu kita, yaitu para sahabat radhiyallahu `anhu. Itu merupakan taufiq dari Allah SWT, karena Dia telah menjadikan sesuatu, pasti ditakdirkan-Nya pula hal-hal yang menjadi pendukung terlaksananya janji tersebut. Allah telah menjanjikan bahwa Dia akan memelihara Al Quran secara utuh hingga hari kiamat, sampai Al Quran ditarik kembali oleh-Nya. Oleh karena itu, Allah juga membuat sebab-sebab agar Al Quran tetap lestari, terjaga dan terpelihara dari usaha untuk merobah dan dan menambah Al-Quran sebagaimana yang telah terjadi pada kitab-kitab yang sebelumnya.

Di antara wasilah-wasilah bagi terpeliharanya As-Sunnah:

1. Menjadikan para sahabat senantiasa menjaga sunnah Nabi shallallahu `alaihi wasallam. Oleh sebab itu, mulai dari zaman sahabat usaha-usaha untuk menghapal As-Sunnah sudah mulai nampak pada diri sahabat, seperti Abu Hurairah radhiyallahu `anhu yang dido`akan Nabi shallallahu `alaihi wasallam agar setiap hadits yang didengarnya atau dilihatnya dari beliau tidak terlupakan lagi. Dengan demikian, Abu Hurairah radhiyallahu `anhu tercatat sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, karena memang beliau senantiasa men-dampingi Rasulullah shallallahu`alaihi wasallam, baik dalam keadaan bermukim, maupun dalam musafir.

2. Di antara yang dilakukan sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam ialah menghadiri majlis-majlis beliau. Kalau ada yang tidak bisa hadir, maka mereka senan-tiasa bertabayyun (memastikan) dengan sahabat lain yang hadir. Misalnya, Umar bin Khaththab radhiyallahu `anhu, secara bergantian menghadiri majlis Nabi shallallahu `alaihi wasallam dengan salah seorang sahabat (tetangga)nya dari kalangan Anshar.

3. Begitu pula, Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam dikaruniai isteri-isteri yang cerdas dan cinta ilmu, seperti Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu `anhuma, yang merupakan dua dari tujuh orang sahabat yang meriwayatkan hadits terbanyak dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam, khususnya hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang lain selain isteri-isterinya. Itulah keistimewaannya Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, semua gerak-gerik dan per-buatannya tercatat, karena layak dan pantas untuk dicontoh.

4. Para sahabat bertabayyun dalam menerima hadits, walaupun dari sahabat sendiri. Misalnya, Ali bin Abi Thalib meminta sahabat yang menyampaikan hadits untuk bersumpah bahwa hadits itu benar-benar dia dengar atau lihat dari Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Atau seperti yang dilakukan oleh Jabir bin Abdillah yang berjalan sebulan penuh dari Madinah ke Damasqus untuk memastikan sebuah hadits dari salah seorang sahabat di sana, yaitu `Uqbah bin `Amir Al-Anshary. Sesudah mendengarkan hadits itu, beliau langsung pulang. Begitu pula Abu Ayyub Al Anshary yang melakukan perjalanan jauh ke Mesir. Sesudah mendengarkan hadits tersebut, ia langsung pulang ke Madinah.

Imam Ibnu Sirin mengatakan bahwa di zaman Nabi shallallahu `alaihi wasallam tidak perlu ditanyakan siapa perawinya, karena memang pada saat itu, semua sahabat tidak pernah berbohong, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu `anhu. Sampai dalam masalah duniapun mereka tidak pernah berbohong, apalagi untuk urusan agama. Namun, setelah terjadinya fitnah dengan terbunuhnya Usman bin Affan radhiyallahu `anhu, mulailah ada dari kalangan generasi berikutnya yang berani melakukan kebohongan dan menyebarkan hadits palsu. Saat itu, mulai pulalah ditanyakan siapa yang meriwayatkan hadits itu. Kalau yang meriwayatkannya adalah orang yang dikenal jujur, diterima haditsnya. Sedangkan yang belum dikenal kejujurannya tidak diterima haditsnya. Sebab, di saat itu zamannya sudah lain, di mana sudah ada yang berani membuat hadits atas nama Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam, terutama yang berkenaan dengan kelebihan dan keutamaan keluarga Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam yang banyak dipalsukan oleh orang-orang yang mengklaim cinta Ahlul Bait.

Melihat kondisi yang tidak aman lagi, di samping para sahabat Nabi shallallahu `alaihi wasallam sudah banyak meninggalkan dunia, akhirnya dimulailah membukukan hadits-hadits. Pembukuan hadits secara resmi dilakukan oleh Ibnu Syihab Az-Zuhri (124H) atas perintah dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Kemudian usaha-usaha pembukuan hadits terus berlangsung sampai Imam Malik bin Anas (179H) menulis kitab “Al-Muwaththa’” yang merupakan kitab hadits pertama yang memperhatikan keshahihan hadits dan riwayat sebelum “Shahih Bukhary dan Muslim”, sampai-sampai Imam Asy-Syafi`I mengatakan: “Saya tidak pernah melihat di bawah kolong langit ini, kitab yang lebih shahih dari kitab “Al-Muwaththa” Imam Malik bin Anas”.

 

URGENSI DAN MANFAAT PENERAPAN AS-SUNNAH

Karena, Islam adalah implementasi Al-Quran, dan Al-Quran itu tidak mungkin terimplementasikan tanpa adanya As-Sunnah, maka terpeliharanya Islam berarti pula terpeliharanya As-Sunnah An-Nabawiyah. Oleh karena itulah Nabi shallallahu `alaihi wasallam memesankan dengan tegas untuk berpegang teguh kepada sunnahnya sepeninggal Beliau. Sebab, sudah pasti akan terjadi banyak perbedaan dan perselisihan pendapat di kalangan umat, khususnya di saat lemahnya iman dan berbedanya berbagai kepentingan. Nabi shallallahu `alaihi wasallam bersabda:

« أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ ». رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه

"Saya berpesan kepada kalian untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin), sekalipun dia seorang hamba berkulit hitam. Karena sesungguhnya, barangsiapa yang masih hidup di antara kamu sesudahku, maka ia pasti akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Oleh sebab itu, hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para Al-Khulafa' Ar-Rasyidin yang diberi petunjuk. Berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi taringmu (kuat-kuat), dan hindarilah hal-hal yang diada-adakan dalam agama, karena sesungguhnya setiap yang diada-adakan itu adalah bid`ah, dan setiap bid`ah itu adalah kesesatan". HR. Abu Daud, At Tirmidzy dan Ibnu Majah

Hadits di atas menjelaskan pentingnya berpegang teguh kepada sunnah Nabi shallallahu `alaihi wasallam, khususnya di saat banyaknya permasalahan dan perselisihan di kalangan umat. Allah Subhanahu wa Ta`ala telah mempertegasnya pula dalam firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". QS. An Nisaa': 59

Ayat dan hadits di atas menegaskan pentingnya mengem-balikan segala permasalahan yang diperselisihkan kepada Al-Quran dan As-Sunnah, karena keduanya adalah sama-sama wahyu yang bersumber dari Allah. Dan hanya dengan keduanyalah segala permasalahan umat dapat terselesaikan, karena hanya pada keduanyalah kebenaran hakiki dan mutlak terdapat. Sedangkan yang lain, kebenarannya tidaklah mutlak dan terjamin. Kemudian dengan mengikuti Allah dan Rasul-Nya serta tunduk dan patuh kepada keduanya adalah bukti kecintaan seorang mu'min kepada-Nya. Allah berfirman kepada Nabi-Nya:

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". QS. Ali Imran: 31

Dan sebaliknya berpaling dari menaati dan mengikuti Allah dan Rasul-Nya adalah pertanda ingkar dan kufur. Allah berfirman:

"Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya. Allah tidak menyukai orang-orang kafir". QS. Ali Imran: 32

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Mengikuti Rasul akan mengurangi pertentangan di antara umat Islam.

2. Mengikuti Rasul dapat menyatukan persepsi dan pandangan umat.

3. Mengikuti Rasul berarti meraih cinta Allah.

4. Mengikuti Rasul berarti ikut serta melestarikan kemurnian ajaran Islam.

5. Tidak mengikuti Rasul merupakan sikap ingkar kepada Allah dan Rasul.

6. Tidak mengikuti Rasul merupakan sumber utama timbulnya perselisihan dan pertikaian di kalangan umat.

7. Tidak mengikuti Rasul adalah sumber utama kesesatan.

8. Umat Islam berkewajiban taat kepada Allah, Rasul dan para pemimpinnya dalam kerangka taat kepada Allah dan Rasul.

Itulah sebagian manfaat yang akan diperoleh muslim dan muslimah bila mereka teguh mengikuti sunnah Nabi shallallahu `alaihi wasallam. Semoga Allah menguatkan tekad dan niat kita semua. Amin.

Metode Penafsiran Hadits yang Berkembang dan Filosofinya

Karena sangat pentingnya menghidupkan As-Sunnah dan penerapannya bagi meredam berbagai perbedaan penafsiran dan pemahaman yang menjurus kepada saling menuding dan curiga antara sesama umat Islam, adalah sangat penting bagi kaum muslimin –baca: ulama- mengenali metodologi yang benar dalam menafsirkan As-Sunnah tersebut. Sebab, segala masalah itu timbul bila berangkat dari metodologi yang salah dan keliru.

Secara eksplisit, penyaji, dalam pendahuluan di atas, telah menjelaskan bahwa metode penafsiran hadits yang berkembang, secara ijmal (global) dapat dibagi kepada dua:

Pertama: Metode Ahlus Sunnah wal Jama`ah.

Kedua: Metode Ahlul Ahwa', Bid`ah dan Dhalalah.

Metode Ahlus Sunnah wal Jama`ah ialah metode yang mereka warisi turun temurun dari zaman Nabi Saw, yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan.

Metode ini ialah yang mengusung cara menafsirkan hadits dengan Al-Quran dan menafsirkan hadits dengan hadits.

Menafsirkan hadits dengan Al Quran, karena keduanya sama-sama berasal dari Allah. Bedanya Al Quran, makna dan lafazhnya dari Allah, sedangkan hadits maknanya dari Allah dan lafazhnya dari Nabi Saw.

Sedangkan menafsirkan hadits dengan hadits, karena yang paling paham terhadap hadits adalah orang yang menjadi sumber hadits itu sendiri, yaitu Rasulullah Saw.

Alasan filosofis mereka sederhana dan mudah dicerna, yaitu; yang paling paham terhadap maksud suatu ucapan tentu orang yang mengucapkannya, dan yang paling mengerti tujuan dari suatu perbuatan adalah orang yang berbuat itu sendiri. Dan dari situ pula mereka memahami, bahwa yang paling memahami maksud Allah adalah orang yang paling dekat kepada Allah. Dan orang yang paling dekat kepada Allah adalah Rasulullah Saw.

Dan berbekal keyakinan inilah mereka bersusah payah dan berusaha sepenuh hati mengumpulkan, menghapal dan meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah Saw dan meletakkan dasar-dasar dan kaedah-kaedah yang dapat menjamin tidak bercampurnya mana yang benar-benar hadits Nabi dengan yang ditelusupkan ke dalamnya.

Ada rambu-rambu utama yang selalu dijaga dan dipatuhi oleh Ahlus Sunnah dalam memahami hadits Rasulullah Saw:

1. Memastikan keshahihan hadits itu sendiri. Ini diketahui sesudah melalui proses penyaringan yang super ketat, yang tidak kita temukan dalam metodologi ilmiah manapun di dunia, dari segi autentisitas dan validitasnya serta kejujuran dan amanah ilmiahnya.

Metode ini sangatlah penting, karena bagaimana mungkin seorang menjadikan dasar hadits yang belum tentu keshahihan dan kepastian datangnya dari Nabi Saw. Kenyataan di lapangan membuktikan betapa banyaknya perbedaan pendapat yang memicu tersulutnya api perpecahan di kalangan umat kita, sebabnya adalah banyaknya bertebaran hadits dha`if dan maudhu` di tengah-tengah masyarakat. Dan biasanya hadits yang dha`if dan maudhu` itu akan berten-tangan atau bercanggah dengan Al-Quran dan hadits yang shahih.

2. Mengumpulkan semua hadits yang berkenaan dengan suatu masalah dan bab di satu tempat, sehingga jelas maksud dari sebuah hadits tersebut, karena sebagian hadits menafsirkan sebagian yang lain. Kalau metode ini tidak dilakukan, akan terjadi pemahaman yang pincang dan parsial terhadap suatu masalah, yang pada gilirannya menjerumuskan pada suatu bid`ah, kesesatan dan sikap berlebihan (ekstrem).

Inilah yang dikhawatirkan oleh imam ahli hadits dan guru besar Imam Al-Bukhary, Ali ibn Al-Madiny, Beliau berkata: "Kalau belum meriwayatkan hadits dari empat puluh thariq (jalan, sumber dan sanad), kami belum dapat memahaminya". Artinya, memahami hadits tersebut sesuai dengan teks dan konteksnya, bukan memahami makna dari lafazh hadits itu.

3. Mengumpulkan lafazh-lafazh satu hadits di satu tempat. Cara ini sangat penting, karena akan didapatkan keterangan yang lengkap dari suatu hadits. Sebagian muhaddits (perawi hadits) ada yang meriwayatkan hadits dengan makna atau meringkas. Nah, dengan dikumpulkannya semua lafazh yang diriwayatkan akan terkumpul keterangan yang jelas bagaimana sebenarnya hadits itu datang dari Nabi shallallahu `alaihi wasallam.

4. Mencari sabab wurud (latar belakang lahirnya) hadits.

Ini sangat penting, karena ia merupakan suatu qarinah (indikator), apakah hadits tersebut bersifat lokal, kondisional dan temporal, ataukah ia berlaku umum dan universal.

5. Menafsirkan hadits dan memahaminya di bawah naungan makna Al-Quran, jangan sampai bertentangan dengan makna umum Al-Quran.

6. Menafsirkan hadits dengan hadits. Menafsirkan hadits dengan hadits adalah penting, karena ada hadits yang bersifat mujmal dijabarkan dalam hadits yang lain. Ada yang bersifat mutlak, dibatasi dengan hadits yang lain dan ada pula yang bersifat mubham (tidak jelas), diterangkan maksudnya dengan hadits yang lain.

7. Menafsirkan hadits dengan pemahaman dan `urf (kebiasaan pemakaian) bahasa Arab, karena hadits-hadits tersebut berbahasa Arab. Oleh karenanya, menafsirkan hadits menurut `urf bahasa lain akan menimbulkan kontradiksi pemahaman.

8. Menyesuaikan hukum dengan hadits, bukan menye-suaikan hadits dengan hukum. Metode Ahlus Sunnah adalah menjabarkan hadits dan mengeluarkan hukum dari hadits, bukan dengan menetapkan sebuah hukum, lalu mencarikan hadits yang kira-kira bisa disesuaikan dengan hukum-hukum tersebut.

9. Mengetahui nasikh dan mansukh.

10. Mendahulukan pemahaman salaf (sahabat) dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Karena sahabat adalah orang yang menerima langsung dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri; bagaimana, di mana dan kenapa hadits itu dikeluarkan dan bagaimana pula dilaksanakan.

11. Memahami ilmu mukhtalifil hadits.

Inilah beberapa rambu yang selalu dipatuhi oleh Ahlus Sunnah untuk menjaga keabsahan pemahaman mereka terhada hadits. Oleh karena itu, jarang sekali terjadi pertentangan di antara hadits dengan logika mereka. Sebab, hadits yang shahih tidak akan bertentangan dengan akal yang sharih (sehat). Bila terdapat pertentanan, pasti ada yang cacat dan tidak beres di antara keduanya; bisa akal yang tidak sehat atau haditsnya yang tidak shahih.

Kedua: Metode Ahlul Ahwa, Bid`ah dan Kesesatan.

Metode ini ialah metode orang yang suka menempuh jalan pintas, metode orang yang suka hidup bersenang-senang, tidak mau bersusah payah membahas dan meneliti, persis seperti yang dikatakan Nabi Shallallahu `alaihi wasallam:

« لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ، يَأْتِيهِ الأَمْرُ مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ: لاَ أَدْرِى مَا وَجَدْنَا فِى كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ ». رواه أبو داود والترمذي

"Janganlah sekali-kali saya menemukan seseorang di antara kalian yang duduk santai di atas sofanya, datang kepadanya suatu perintah yang saya perintahkan atau larangan yang saya larang, ia lantas menjawab: "Saya tidak mengenal ini, apa yang ada dalam kitab Allah itulah yang kami ikuti". HR. Abu Daud dan At Tirmidzy.

Alat satu-satunya yang mereka miliki adalah logika dan akal semata. Pokoknya, semua hadits yang tidak sesuai dengan akal dan logikanya mesti ditolak, walaupun shahih menurut ahlinya. Kemudian, walaupun hadits itu diterima lafazhnya, namun maknanya akan ditafsirkan menurut selera mereka tanpa dukungan bukti dan data, sehingga esensi hadits itu akan hilang sama sekali. Maksudnya dan tujuannya adalah lari dari mengamalkan hadits itu sendiri.

 

PENUTUP

Sebagai umat Islam, kita bersyukur kepada Allah karena Dia telah mengutus kepada kita seorang rasul yang termulia, yang semua detail kehidupannya tercatat lengkap. Karena, semua perkataan, perbuatan dan tingkah laku beliau memang patut dan pantas diikuti dan diteladani. Apapun yang terjadi pada diri beliau merupakan terjemahan hidup dari Al-Quran dan syari`at Allah.

Menyadari hal ini, para sahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan benar selalu mengikutinya tanpa banyak tanya dan persoalan. Mereka paham betul bahwa Nabi shallallahu `alaihi wasallam itu memang untuk dicontoh dan diteladani. Di saat itu tidak terjadi banyak perbedaan persepsi dan pandangan dalam tubuh umat Islam. Dan kalaupun terjadi, mereka langsung menyelesaikannya di hadapan Nabi shallallahu `alaihi wasallam. Cara inilah yang diikuti oleh generasi berikutnya yang setia. Setiap ada perbedaan pandangan, mereka segera mengembalikannya kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul-Nya (As-Sunnah).

Namun di kala umat sudah banyak, berbagai kepentingan saling bertentangan, di situ mulai lahir perbedaan dan pertentangan yang banyak. Ini diperparah lagi dengan minimnya pengetahuan mereka terhadap As-Sunnah. Masing-masing menafsirkan sesuai dengan maksud dan kepentingannya. Kondisi ini semakin hari semakin bertambah parah seiring dengan semakin minimnya pengetahuan umat terhadap Nabinya. Untuk itu, agar umat ini kembali kepada persatuan dan persaudaraannya sebagaimana dicontohkan oleh generasi pertamanya, maka sangat perlu umat saat ini kembali kepada metode pemahaman dan pengamalan mereka. Kalau tidak, maka perbedaan dan perpecahan umat akan semakin parah. Karena semakin jauh kita menyimpang dari ajarannya, semakin banyak pula cabang dan aliran dalam agama kita. Mudah-mudahan usaha-usaha serius ke arah itu dengan menyatukan kekuatan umat di semua lini dan elemen akan dapat meluruskan pemahaman umat yang sudah sangat keliru ini. Peran ulama dan umara’ sangat diharapkan dalam mewujudkan kondisi ini. Wallahul Musta`an wa `alaihi Attuklan.

Dasman Yahya Ma`ali, adalah alumni Universitas Islama Madinah, Arab Saudi, menyelasaikan pendidikan dari sarjana sampai mendapatkan gelar doktor di Jurusan Ulumul Hadits. Lahir di Muarajalai, Kec. Kampar Utara pada hari Senin 11 Januari 1971. Sejak tahun 2009 sampai saat ini diamanahkan sebagai Syeikh Ma`had Al-Jami`ah UIN Suska Riau, disamping aktif sebagai dosen Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits Kelas Internasional, UIN Suska, Riau. Sejak tahun 2012 diamanahkan memimpin Markaz Islamy Kabupaten Kampar, sebagai Ketua Badan Pengelola dan Imam Besar. Dan saat ini sebagai anggota Dewan Pembina di Yayasan Wakaf Indo As-Sakinah, Pekanbaru. Sehari-hari aktif sebagai da`i dan memberikan pengajian hadits di berbagai tempat.

 

Daftar bacaan:

  1. Tadwin As Sunnah An Nabawiyah, DR. Muhammad bin Mathar Az Zahrany, Maktabah Ash Shiddiq, cet. I, 1412H
  2. Jami`u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, Abu Umar Yusuf bin Abdul Barr Al Qurthuby, Editor: Fawwaz Ahmad Zamarli, Muassasah Ar Rayyan, Daar Ibn Hazm, cet. I, 1424/ 2003H.
  3. Al Faqih wal Mutafaqqih, Ahmad bin Ali Al Khatib Al Baghdady (463H) Adil Al `Azzazy, Daar Ibnul Jauzy, Arab Saudi, 1417H.
  4. Al-Kifayah fi Ilmi Ar-Riwayah, Al–khatib Al-Baghdadi (463H) Al-Maktabah Al-'Ilmiyah Madinatul Munawwarah
  5. Madkhal li Dirasatil Aqidah Al Islamiyah, Usman Jumah Dhamiriyah, Maktabah As Sawadi, Jeddah, cet. II, 1417H.
  6. Inkarul Hadits fi Asy Syabakatil Alamiyah, Dasman Yahya Ma`ali, Makalah Seminar LPQH UIN Suska, Pekanbaru, 19 Mei 2009.
  7. Al Muntakhab minal Fikr Ash Shufi, Prof. Dr. Muhammadd Ahmad Lauh, Muassasah Al `Alamiyah lil I`mar wat Tanmiyah, cet. 2009.
  8. As Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri` Al Islamy, Musthafa As Siba`i, Al Maktab Al Islami, cet. II, 1978.
  9. Taqyiidul Ilmi, Ahmad bin Tsabit Al Khatib Al Khatib Al Baghdady (463H), editor: Yusuf Al `Isysy, Daar Al Wa`yi.
  10. Bunga Rampai Penyimpangan Agama di Indonesia, Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al Kautsar, cet. II, 2007
  11. Al-Ma`rifah fil Islam, Mashadiruha wa Majalaatuha, Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Qarny, Daar  `Alam Al Fawaa’id, cet. I, 1419H-1999M.
  12. Mu`jam Mushthalahaat Al Hadits wa Latha’if Al-Asaaniid, Prof. Dr. Muhammad Dhiyaa’ Ar-Rahman Al-A`zhamy, Adhwwaa’ As-Salaf, cet. 1, 1420H-1999M.
  13. Metodologi Pemahaman Hadits dan Pengaruhnya dalam Penerapan Syari`at, Dasman Yahya Ma`ali, Makalah Seminar Hadits di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Sabtu, 12 Nopember 2009.

Materi Seminar dan Tabligh Akbar di Yayasan Wakaf Indo As-Sakinah, Pekanbaru, Ahad 07 April 2013


Berita Lainnya :

HAJAT UMAT MANUSIA TERHADAP DAKWAH (RISALAH) KETIKA ORIENTALIS BICARA TENTANG NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU `ALAIHI WASALLAM ISLAM YANG MEYAKINKAN KERANCUAN ILMU PARA ILMUAN IMAN LANDASAN AMAN