KETIKA ORIENTALIS BICARA TENTANG NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU `ALAIHI WASALLAM


Sesungguhnya Nabi kita Muhammad shallallahu `alaihi wasallam adalah manusia sempurna yang telah dipilih Allah SWT untuk menjadi suri tauladan, yang tidak memiliki cacat sedikitpun, yang ma`shum dari segala dosa dan hal-hal yang dapat merendahkan muru’ah. Oleh sebab itu, sejarah (sirah) kehidupan Beliau, dalam segala aspeknya tidak ada yang mesti disembunyikan dari khalayak. Semuanya pantas menjadi contoh dan diteladani, baik yang biasa tampak di hadapan umum, maupun hal-hal yang sangat khusus dalam rumah tangganya. Benarlah apa yang difirmankan Allah dalam Al-Quran:

[لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا]. الأحزاب: 21

“Sesungguhnya terdapat bagimu pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik; yaitu bagi orang yang mengharapkan bertemu dengan Allah dan hari akhirat, serta banyak berzikir kepada Allah”. QS. Al-Ahzaab: 21

Saking terangnya sejarah hidup Beliau, tinggi dan luhurnya akhlaknya, besarnya jiwanya, halusnya adab sopan santunnya, membuat orang-orang yang beriman kepadanya semakin merindukan bertemu dengannya. Hati mereka dipenuhi rasa ta`zhim kepadanya, cinta dan rindu berjumpa dengannya, walaupun untuk itu mereka harus berkorban apa saja yang mereka miliki. Sungguh suatu mu`jizat yang diberikan Tuhan kepadanya. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah ra, Beliau bersabda:

(( مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِيْ لِيْ حُبًّا نَاسٌ يَكُوْنُوْنَ بَعْدِيْ يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِيْ بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ )). رواه مسلم

“Di antara umatku yang paling mencintaiku ialah orang-orang yang datang sesudahku; salah seorang mereka menginginkan seandainya ia dapat melihatku dengan keluarga dan hartanya”. H.R. Muslim

Sejarah hidup Beliau yang terang, jelas, detail dan tanpa cacat ini adalah satu-satunya sejarah anak manusia yang tidak bisa ditutup-tutupi, walaupun usaha musuh-musuh Islam sepanjang sejarah untuk itu tidak pernah berhenti dan kenal lelah. Bagaimana mungkin menutup matahari dengan telapak tangan?! Mungkinkah menghilangkan aroma harum sirahnya yang telah memenuhi jagad raya ini?! Oleh karena itu, semua usaha untuk itu selalu berakhir gagal dan membuang-buang masa dan biaya. Selamanya akan ada orang yang membongkar kedok para musuh tersebut, dan tidak jarang pula dari kalangan mereka sendiri. Sebagai contoh, mari kita simak apa yang dikatakan oleh Philip Hitti berikut, “Di kalangan penulis zaman sekarang, ada segelintir orang yang hendak membuka pekerjaan-pekerjaan besar yang sukses dilakukan Muhammad shallallahu `alaihi wasallam, atau hendak menguraikan kehidupan berkeluarganya berdasarkan analisis kejiwaan, sehingga mereka tidak menambahkan melebihi apa yang mereka tambahkan kepada berbagai bentuk tuduhan dan ide-ide (pemikiran) kosong yang didasari hawa nafsu, selain hukum-hukum yang merupakan kebohongan ilmiah”.

Apa yang dilakukan oleh penulis barat yang diisyaratkan Hitti di atas, adalah karena mereka tidak mendapatkan jalan untuk menutup-nutupi kebenaran sirah Nabi shallallahu `alaihi wasallam dari para pengikutnya, karena mereka dari kecil sudah menghapalkannya, khususnya di masa-masa umat Islam masih dekat dengan agamanya. Maka sebagai gantinya, mereka mencoba menyusupkan pemikiran beracun mereka dengan cara memberikan ulasan dan tafsiran terhadap beberapa sisi kehidupan Nabi shallallahu `alaihi wasallam sesuai dengan kondisi dan hawa mereka. Mereka lupa atau pura-pura tidak tahu, bahwa di samping ia sebagai syari`at yang diturunkan Allah kepada Beliau, ia juga mengandung hikmah-hikmah, baik yang mereka ketahui atau tidak.

Di antara isu yang mereka angkat untuk menyudutkan dan mengecilkan kepribadian Nabi shallallahu `alaihi wasallam ialah masalah jumlah isteri Beliau yang melebihi kapasitas manusia biasa. Dari sini mereka merasa mendapatkan angin dan kesempatan untuk menyusupkan bibit fitnah yang akan menyesatkan umat manusia dan orang-orang yang lemah iman di kalangan umat Islam. Untuk menjawab syubuhat ini, baiklah kita berikan kesempatan kepada tokoh dari barisan mereka sendiri, yaitu Laura Vishia, untuk menjawabnya. Vishia mengungkapkan dengan panjang lebar tentang pernikahan Nabi shallallahu `alaihi wasallam dengan para isterinya itu serta hal-hal yang melatarbelakanginya:

“Sesungguhnya Muhammad –shallallahu `alaihi wasallam- sepanjang masa mudanya, di mana dorongan pelampiasan seksual berada pada puncak kekuatannya, dan meskipun ia hidup dalam masyarakat seperti masyarakat Arab, di mana pernikahan sebagai lembaga sosial sudah hilang atau hampir hilang, dan di mana hidup berpoligami merupakan prinsip dasar, sedangkan thalak dengan mudah sekali dijatuhkan, namun walaupun demikian, ia tidak menikah kecuali dengan seorang wanita saja, tidak lebih, yaitu Khadijah yang umurnya jauh lebih tua dari umurnya. Dan sesungguhnya ia selama dua puluh lima tahun, tetap setia menjadi suaminya yang tulus ikhlas mencintainya, dan selama itu pula ia tidak menikah untuk kedua kalinya, kecuali sesudah Khadijah wafat. Dan itu tatkala umurnya sudah mencapai lima puluh tahun. Sesungguhnya setiap pernikahannya itu mempunyai latar belakang sosial  atau politik, yaitu bermaksud dengan menikahi wanita-wanita itu untuk memuliakan wanita-wanita yang memiliki sifat takwa, atau untuk membina hubungan perbesanan dengan keluarga-keluarga dan kabilah-kabilah lain guna merintis jalan baru menyebarkan Islam. Selain Aisyah, Muhammad tidak menikahi wanita-wanita yang masih perawan yang masih muda belia dan bukan pula yang cantik jelita. Nah, apakah itu berarti ia sebagai seorang syahwani (gila syahwat)?! Ia sungguh seorang lelaki, bukan Tuhan. Bisa saja yang melatarbelakangi pernikanhannya karena mengharapkan anak laki-laki, sebab anak laki-lakinya yang diberikan Khadijah semuanya meninggal dunia. Dan tanpa penghasilan yang banyak ia bangkit memikul beban keluarga besar. Akan tetapi, ia senantiasa istiqomah pada prinsip keadilan yang sempurna di antara isteri-isterinya, tidak pernah membeda-bedakan di antara mereka. Ia berlaku seperti para nabi dahulu, seperti Musa dan lain-lainnya, yang sepertinya tidak seorang manusiapun yang menentang pernikahan poligami mereka. Nah, apakah sebabnya karena kita tidak mengetahui detail kehidupan mereka sehari-hari, pada saat kita mengetahui segala sesuatu tentang kehidupan Muhammad dalam berkeluarga?!!”

Penulis mengira pembaca dapat mencerna sendiri ungkapan di atas, sehingga tidak tersisa lagi keraguan untuk benar-benar mencintai Nabi kita Muhammad shallallahu `alaihi wasallam.

Pekanbaru, 30/11/2010


Berita Lainnya :

HAJAT UMAT MANUSIA TERHADAP DAKWAH (RISALAH) ISLAM YANG MEYAKINKAN KERANCUAN ILMU PARA ILMUAN MENGHIDUPKAN SUNNAH MENYATUKAN UMAT IMAN LANDASAN AMAN