HAJAT UMAT MANUSIA TERHADAP DAKWAH (RISALAH)


Dakwah adalah salah satu kebutuhan mendasar umat manusia. Umat Islam adalah umat yang dipilih Allah mengemban amanah ini. Kewajiban ini adalah kewajiban jama`i (kolektif) umat Islam. Artinya setiap pribadi umat Islam mempunyai kewajiban menyampaikan dakwah, masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya.

Barangkali di antara kita ada yang bertanya-tanya, kenapa setiap umat wajib menyampaikan dakwah dan risalah ini? Bukankah tugas dakwah itu kerjanya para ustadz, kiyai, buya dan pegiat (aktivis) dakwah lainnya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas penulis mengangkat tema “Hajat Umat Manusia Terhadap Dakwah (Risalah)” ini.

Sebelum memasuki inti pembicaraan kita, ada baiknya kita mengamati fenomena-fenomena berikut:

Pertama: Masih banyak sekali umat Islam yang tidak faham dan mengerti ajaran-ajaran agama mereka sendiri. Hal ini berlaku bukan hanya dalam masalah-masalah rumit dan mendalam yang hanya dipahami oleh para ulama dan penuntut ilmu, bahkan dalam hal-hal mudah di mana seorang muslim tidak dapat tidak mesti mengetahuinya, semisal amalan-amalan shalat, zakat, puasa, haji dan lain-lain. Atau bagaimana tatakrama dan adab bertamu, bertetangga, berinteraksi dengan lawan jenis serta hak-hak dan kewajiban dalam berumah tangga. Bahkan –na`udzubillah- tidak sedikit pula di antara umat ini yang melakukan amalan-amalan dan tindakan-tindakan yang dapat mengeluarkannya dari agama Islam yang hanif ini, sebagai akibat dari ketidaktahuan atau taklid buta kepada nenek moyang dan setia kepada adat istiadat lama.

Kedua: Walaupun kemajuan dunia di bidang teknologi informasi sudah boleh dikatakan sampai pada puncaknya, bahkan kita sering mendengar ungkapan, “Dunia hari ini ibarat satu kampung”, namun kenyataannya kebanyakan orang-orang non muslim belum belum mendapatkan informasi yang memadai dan shahih tentang Islam.

Buktinya, pasca terjadinya peledakan gedung kembar WTC pada 11 September 2001, animo masyarakat Barat untuk mengenal Islam semakin mengkristal. Karena selama ini, gambaran yang mereka terima tentang Islam dan umatnya adalah dari tulisan-tulisan pena berlumuran dosa dan fitnah terhadap Islam. Hal ini diperparah lagi oleh fenomena umat Islam sendiri yang jauh dari akhlak dan adab islami. Demikian pula pasca pelecehan terhadap pribadi Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam oleh sebuah harian Denmark. Hal itu justru membuat keinginan masyarakatnya untuk mengenali Islam semakin tidak terbendung. Dan sebagai hasil langsung dari pendalaman Islam itu adalah keyakinan baru yang mengantarkan mereka kepada pengakuan akan keagungan dan keluhuran agama Islam, yang kemudian mengantarkan mereka ke gerbang keselamatan dunia dan akhirat, yaitu berbondong-bondongnya mereka masuk agama ini.

Ketiga: Masih banyak pelanggaran terhadap agama yang dilakukan oleh umatnya sendiri, dengan sangkaan bahwa apa yang mereka lakukan tidaklah bertentangan dengan ajaran agama. Hal ini bukan hanya terjadi di kalangan awam kaum muslimin, akan tetapi juga meliputi kalangan intelektualnya. Dan yang lebih ironis, justru tidak jarang kita dengar dari kalangan yang mengklaim diri sebagai aktivis Islam dan memperjuangkan Islam dengan gayanya yang baru dan berbeda sama sekali dengan tujuan-tujuan dan ajaran-ajaran Islam itu sendiri.

Barangkali ketiga hal di atas sudah cukup memberikan gambaran kepada kita akan urgensi dakwah dan bagaimana mendesaknya hajat umat manusia terhadap risalah dakwah dalam segala masa dan tempat. Ini ditambah lagi den gan semakin banyaknya pihak-pihak yang berusaha keras siang dan malam menggerogoti Islam dan umatnya, baik dari kalangan dalam (interen) maupun dari pihak luar (eksteren).

Manusia walaupun diberikan akal dan kemampuan berpikir membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang bermanfaat dan bermudharat serta antara yang hak dengan yang batil, tetap saja membutuhkan dakwah Islam, karena  ia pasti diliputi berbagai kekurangan dan kelemahan. Sebutlah orang sepintar Socrates misalnya, ungkapannya yang sangat dikenal ialah, “Sesuatu yang saya ketahui dengan baik bahwa saya tidak mengetahui sesuatupun”. Demikian pula dengan Aristoteles yang dikenal sebagai bapaknya ahli filsafat dan terkenal dengan kejeniusannya. Ia hanya sampai pada satu natijah bahwa alam raya dengan segala keidahan dan keteraturannya pasti ada yang menciptakan dan mengatur. Namun ia sendiri tidak mengetahui siapa itu pencipta dan pengatur, ia hanya menyebutnya dengan faktor (X). Ini membuktikan bahwa untuk mengenal suatu kebenaran yang hakiki tentang agama dan alam raya ini dibutuhkan pengetahuan ya ng bersumber dari Sang Pencipta, Yang Maha Agung lagi Maha Mengetahui.

Hajat manusia kepada agama yang lurus adalah kebutuhan asasi, melebihi kebutuhan mereka terhadap udara dan air yang merupakan unsur utama kehidupan. Ibnul Qoyyim –rahimahullah- berkata: “Hajat manusia kepada syari`at adalah kebutuhan dasar dan asasi, melebihi hajat mereka kepada segala sesuatu yang lain. Dan hajat mereka kepada syari`at lebih besar dari kebutuhan mereka untuk bernafas, apalagi untuk makan dan minum. Sebab, kondisi terburuk akibat tidak bernafas, makan dan minum adalah matinya jasmani. Sedangkan kemungkinan terburuk akibat tidak ada syari`at adalah rusaknya rohani dan hati secara total yang merupakan kebinasaan abadi”.

Sungguh benar apa yang dikatakannya, tanpa adanya dakwah dan syari`at, kehidupan umat manusia akan centang perenang, bergelimang kesesatan dan kegelapan. Hajat ini bukan terbatas pada kalangan non muslim semata, bahkan kaum muslimin sangat memerlukan dakwah agar orang-orang non muslim tertarik untuk memeluk agama Islam tatkala mereka menyaksikan bagaimana kaum muslimin yang menegakkan agama dan syari`atnya berada dalam kebahagiaan di bawah cahaya hidayah dari Allah. Dakwah juga dibutuhkan di kalangan muslim, agar komitmen beragama mereka semakin meningkat sehingga mereka benar-benar mendapatkan cahaya kebahagiaan tersebut.

{ اللهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُهُمْ مِنَ النُّوْرِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ}. البقرة: 257

“Allah adalah Penolong orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang. Sedangkan orang-orang yang kafir, penolong-penolong mereka adalah Thaghut; mereka mengeluarkannya dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. Al-Baqarah: 257

Dan di zaman sekarang, kita hidup dalam situasi dan kondisi yang mana semua hal didasarkan pada asas kepentingan dan materi, sehingga umat manusia –kaum muslimin terseret di dalamnya- berpaling dari agamanya, semakin menguatkan kewajiban orang-orang yang punya ghirah terhadap agamanya untuk bangkit dan berbuat menyelamatkan umat ini dari keterpurukan. Ini semakin menguatkan bahwa kebutuhan kaum muslimin sendiri terhadap dakwah adalah sangat urgen dan mendesak di samping hajat orang-orang non muslim kepadanya.

Syekh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- berkata –menekankan masalah ini-: “Sudah sangat jelas bagi setiap orang yang paling rendah ilmu dan pengalamannya sekalipun, bahwa dunia Islam hari ini, bahkan seluruh dunia, sangat mendesak kebutuhannya akan dakwah Islam yang jelas lagi terang, yang menjabarkan kepada manusia hakikat Islam dan menjelaskan kepada mereka hukum-hukum dan kebaikan-kebaikannya”.

Wallahu A`lam.

Penulis mendalami Ilmu-ilmu Hadits dari S1 sampai S3 di Universitas Islam Madinah 1414-1429H. Sekarang bertugas sebagai Syekh Ma`had Al-Jami`ah UIN Suska Riau dan dosen hadits Kelas Internasional Jurusan Tafsir Hadits.

 

Pekanbaru, 07/05/2010


Berita Lainnya :

KETIKA ORIENTALIS BICARA TENTANG NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU `ALAIHI WASALLAM ISLAM YANG MEYAKINKAN KERANCUAN ILMU PARA ILMUAN MENGHIDUPKAN SUNNAH MENYATUKAN UMAT IMAN LANDASAN AMAN